SERANG – Menjadi kampus kelas dunia tak berarti harus seragam dengan perguruan tinggi lain. UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten justru didorong mengembangkan keunggulan akademik yang khas dengan mengangkat potensi serta kearifan lokal.
Strategi tersebut dinilai bisa menjadi pembeda sekaligus modal penting bagi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten untuk menembus persaingan pendidikan tinggi di tingkat internasional.
Anggota Komisi VIII DPR RI Haeny Relawati menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan “Penguatan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Menuju World Class University”, dalam rangka kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI ke UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Kamis (20/8/2026).
Haeny mengatakan, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten memiliki sejumlah potensi lokal yang bisa dikembangkan menjadi bidang keilmuan bernilai tambah. Potensi tersebut, menurut dia, dapat sekaligus menjadi identitas akademik kampus.
Karena itu, pengembangan program studi tidak seharusnya hanya mengikuti bidang keilmuan yang sudah banyak dikembangkan perguruan tinggi lain.
“Ada potensi-potensi yang sangat cerdas dari sivitas akademika, khususnya rektor, untuk membentuk prodi-prodi yang berbasis kearifan lokal,” ujar Haeny.
Dia mencontohkan rencana pengembangan kerja sama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dengan pihak luar negeri di bidang ilmu pengobatan Cina.
Kerja sama tersebut disebut masih berada pada tahap nota kesepahaman (MoU). Namun, Haeny melihat ada peluang untuk mengembangkan pengetahuan tersebut dengan potensi pengobatan berbasis kearifan lokal Banten.
“Di UIN di sini (Sultan Maulana Hasanuddin Banten), rektor sudah menyampaikan kepada kami Komisi VIII sudah ada MoU dengan luar negeri, yaitu di bidang ahli atau ilmu pengobatan Cina. Tetapi masih baru sebatas MoU dan selanjutnya akan dikelola dan diterapkan menjadi ilmu pengobatan Banten karena ketersediaan potensi yang ada di lingkup keberadaan UIN Banten ini sangat menjanjikan,” jelasnya.
Menurut Haeny, perpaduan antara pengetahuan dari luar negeri dengan potensi lokal dapat melahirkan bidang keilmuan yang memiliki karakter tersendiri.
Kekhasan itulah yang dinilai dapat menjadi nilai jual UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di tingkat global.
Haeny menegaskan, predikat *world class university* tidak cukup hanya dibangun melalui kerja sama dengan perguruan tinggi atau lembaga di luar negeri.
Perguruan tinggi juga harus memiliki keunggulan akademik yang kuat, relevan, dan berbeda dari institusi lainnya.
“Jadi, tidak hanya sekadar kerja sama dengan luar negeri, tetapi bagaimana kemudian UIN ini memiliki kekhasan dan keunggulan yang bisa ditawarkan ke dunia internasional,” katanya.
Selain program studi, Haeny menyoroti pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama dosen dan guru besar.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) saja belum cukup untuk membawa perguruan tinggi menuju level dunia.
Penguatan kapasitas akademik harus berjalan beriringan. Salah satunya dengan membuka akses yang lebih luas bagi dosen untuk menempuh pendidikan, melakukan riset, serta mendapatkan pengalaman akademik di luar negeri.
Karena itu, Haeny mendorong adanya regulasi yang lebih mendukung pengembangan kompetensi dosen dan tenaga pendidik.
“Penguatan sumber daya manusia ini adalah penting juga untuk mengubah regulasi-regulasi antara pengiriman atau katakanlah tugas luar negeri, tugas pendidikan luar negeri demi meningkatkan dan memantapkan kompetensi dari para dosen, para pendidik yang berada di sini,” pungkasnya. (**)






