Menu

Mode Gelap
Kekerasan di EPA Memalukan, Sikambara Minta Sanksi Tegas Menteri Pigai soal Feri Amsari Dipolisikan: Kritik Dijamin Konstitusi PAN Bandar Lampung Bidik 8 Kursi, Antara Ambisi Elektoral dan Ujian Kerja Nyata Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas Somasi Terbuka di Tengah Amuk Publik Panji Padang Ratu Ingatkan, Hukum Bukan Milik Massa Kejurprov ORADO Lampung 2026 Piala Gubernur Digelar, Siapkan Atlet Terbaik ke Kejurnas

Berita

Kekerasan di EPA Memalukan, Sikambara Minta Sanksi Tegas

badge-check


					Kekerasan di EPA Memalukan, Sikambara Minta Sanksi Tegas Perbesar

Kekerasan di EPA Memalukan, Sikambara Minta Sanksi Tegas

Junaedi: Ini Alarm Bahaya Pembinaan Sepak Bola Usia Muda

RayaPost.com — Insiden kekerasan yang melibatkan pemain Elite Pro Academy (EPA) Bhayangkara FC terhadap pemain muda Dewa United dalam laga EPA U-20 di Semarang memicu gelombang kecaman publik. Aksi “tendangan kungfu” yang viral di media sosial itu dinilai mencoreng wajah sepak bola nasional dan memperlihatkan rapuhnya pembinaan mental pemain usia dini.

Ketua supporter Sikambara Lampung, Junaedi, angkat bicara keras atas peristiwa tersebut. Ia menyebut kejadian itu bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan sinyal serius kegagalan dalam membangun karakter pemain muda.

“Ini bukan sekadar pelanggaran biasa. Ini alarm bahaya bagi sistem pembinaan kita. Kalau sejak muda sudah mengedepankan kekerasan, bagaimana masa depan sepak bola kita?” tegas Junaedi, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, sepak bola tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai sportivitas, etika, dan pengendalian emosi. Ia menilai insiden tersebut menunjukkan lemahnya pembinaan mental di level akademi.

Junaedi yang juga Presiden Pajero One Indonesia Chapter Krakatau, CEO Rumah Makan Minang Indah Grup, serta Wakil Bendahara DPP APINDO Lampung, mendesak penyelenggara liga dan klub bertindak tegas.

Kami berharap ada sanksi tegas, bukan hanya formalitas. Harus ada efek jera. Jangan sampai hal seperti ini dianggap lumrah di kompetisi usia muda,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan pemain, terutama dalam aspek mental dan emosional. Menurutnya, pelatih dan manajemen klub memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter pemain sejak dini.

Pembinaan itu bukan cuma fisik dan teknik. Mentalitas harus jadi prioritas. Klub dan pelatih harus benar-benar serius dalam hal ini,” tambahnya.

Seperti diketahui, insiden terjadi usai laga EPA U-20 antara Bhayangkara FC dan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4). Dalam video yang beredar luas, seorang pemain Bhayangkara FC terlihat berlari dan melayangkan tendangan keras ke arah wajah pemain Dewa United hingga menyebabkan luka. Aksi tersebut langsung menuai kecaman karena dinilai brutal dan tidak mencerminkan nilai sportivitas.

Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia untuk berbenah, menciptakan kompetisi yang sehat, aman, serta mendidik bagi generasi muda. (***)

Apa Komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menteri Pigai soal Feri Amsari Dipolisikan: Kritik Dijamin Konstitusi

19 April 2026 - 14:25 WIB

Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas

19 April 2026 - 09:00 WIB

Somasi Terbuka di Tengah Amuk Publik Panji Padang Ratu Ingatkan, Hukum Bukan Milik Massa

18 April 2026 - 21:46 WIB

Ketika Komitmen Mutu Pendidikan Berhadapan dengan Realitas Anggaran

14 April 2026 - 07:12 WIB

Menteri Tito Karnavian Semprot Pemda: Stop Pelesiran Berkedok Kunjungan Kerja, Pangkas Anggaran Dinas!

2 April 2026 - 21:50 WIB

Trending di Berita